VOTUM, VOTING & PEMILU

VOTUM, VOTING & PEMILU

Orang Kristen berpartisipasi dalam Pemilihan Umum setiap lima tahun sekali, namun berlatih tiap minggu. Tidak percaya? Dalam setiap minggu baik di gereja Protestan maupun di gereja Katholik ada bagian dalam pembukaan ibadah yang disebut ‘votum’.

Khusus dalam ibadah Protestan, setelah ‘introitus’ atau ‘introit’ disusul oleh ‘votum’ yang langsung disambung dengan ‘salam’. Votum dan salam ini tidak terpisahkan.

Introitus atau intro bisa berupa nyanyian, atau nats pembuka, sedangkan Votum adalah pengesahan atau dukungan suara. Dalam bahasa Inggris disebut ‘vote’ artinya suara atau ‘voting’ artinya pemberian suara. Jadi kata ‘vote’ yang dipakai dalam pemilu modern dan kata votum dalam liturgi gereja mempunyai akar kata yang sama.

Jika vote dalam pemilu modern berarti suara atau memilih, maka votum dalam liturgi gereja artinya Allah mengesahkan atau memilih kita. Karena itu, votum biasanya berbunyi: “Pertolongan kita berasal dari Tuhan, pencipta langit dan bumi” atau dengan pernyataan yang lain.

Pernyataan ini adalah pernyataan pengkhotbah yang mewakili Allah di hadapan umat. Jemaat kemudian menjawabnya dengan: “Amin… amin… amin.” (percaya). Jadi ketika votum itu dinyatakan, itulah pernyataan dari Allah yang menunjukkan bahwa Allah-lah yang menjadi sumber dari segala pertolongan umat. Dan umat mengaminkan pemilihan (vote) Allah itu.

Sebenarnya jika jawaban jemaat diformulasikan secara panjang, maka jemaat sebenarnya menjawab pernyataan dari Allah itu dengan menyatakan “Ya, Tuhan, kami percaya bahwa dalam setiap langkah hidup kami itu adalah merupakan bagian-bagian pertolongan Tuhan. Baik yang menyenangkan kami maupun juga yang tidak menyenangkan kami. Kami percaya bahwa Tuhan sanggup menjadikan yang tidak baik menjadi kebaikan bagi kami.”

Namun tradisi liturgi telah memformulasikannya dengan jawaban pendek, padat dan tepat: “Amin.” Karena jawaban ini adalah jawaban di hadapan Allah maka sikap jemaat ketika menerima pemilihan (vote) itu adalah dalam keadaan berdiri. Ini bukan doa, melainkan kita sedang berdiri di hadapan Allah menerima pemilihan Allah tersebut.

Setelah Allah pemilihan dan penetapan Allah terhadap manusia, Allah berkenan menyapa manusia. Itulah salam. Salam ini menyatakan bahwa Allah mau menyapa kita. Lalu jemaat menjawabnya dengan “Dan beserta saudara juga”? Jemaat membalikkan salam kepada pengkhotbah yang mewakili Allah, sehingga mereka saling memberikan salam satu dengan yang lain, dan semua merasakan damai sejahtera dalam hidupnya. Di sinilah makna persekutuan orang beriman.

Jadi sebenarnya tiap minggu kita diingatkan bahwa Allahlah yang memilih kita, bukan kita yang memilih Allah. Dan Allah berkuasa atas hidup kita, bukan kita yang berkuasa atas Allah, mengatur-atur Allah sesuai kehendak kita.

Bagiamana dengan kehidupan nyata kita? Lebih khusus lagi bagaimana dengan kehidupan berpolitik kita dimana kita menemui berbagai pemilihan dimana-mana? Pemilihan umum, pemilihan walikota, pemilihan gubernur, pemilihan anggota DPR, pemilihan anggota DPD, pemilihan ketua RW/RT, pemilihan Kepala Desa, pemilihan ketua klasis, pemilihan ketua majelis jemaat, ketua rayon, ketua kelas dlsb? Adakah kita menerapkan system vote ini? Adakah yang dipilih tunduk kepada dan menjalankan kehendak para voter atau justru sebaliknya sebaliknya setelah dipilih malah yang memilih nunduk-nunduk kepada yang dipilih?

Ironis tapi nyata, Tuhan yang memilih kita saja kita atur Tuhan apalagi cuma manusia yang pilih kita. Seharusnya yang memilih (alias rakyat, umat) yang berdaulat. Namun dalam kenyataannya, yang berdaulat adalah yang dipilih bukan yang memilih. Kasihan para voter. Votum dan salamnya menjadi tidak berarti. Mungkin sama dengan votum dan salam yang kita terima setiap minggu.[*3*]

Leave a Reply