Phalus itu tak dibangun kemarin sore

Phalus itu tak dibangun kemarin sore

Apakah phalus-phalus* raksasa kapitalisme itu baru di bangun kemarin sore di kota ini bagaikan Candi Prambanan dalam Kisah Roro Jonggrang?
Pak, bu, om, tante, adik, kakak, ini bukan lagi saatnya panik bagaikan tante Roro Jonggrang.

Tak perlulah memanggil seluruh “kampung” untuk membakar jerami dan membunyikan lesung agar hari kelihatan sudah pagi sehingga para jin pulang kampung. Sudah selesai!

Lagipula Roro Jonggrang itu resahnya sebelum candinya selesai, nah kite resahnya setelah candinya diresmikan. Bandung Bondowoso sudah menang di Kupang dek, kakz, om, tantes! Jin-jin sudah berpesta. Siapa mau larang pesta jin yang resmi dan diresmikan? Bahkan kakak, adek, om, tante, papa, mamanya om dan tante mungkin turut dalam pesta itu. Hari sudah siang broer and sis! Bukan para jin yg pulang sebelum siang, tapi kita yg terlambat bangun.

Saya bukan penganjur kapitalisme. Penikmat kadang-kadang mungkin. Tapi siapa bisa menahan lajunya kapitalisme? Negara mana di kolong langit yang masih belum tersentuh kekuatan modal dan belum mendewakan kapital? Bahkan Bhutan yang Rajanya membelakangi standar-standar seperti Produk Nasional Bruto dan lebih memilih Index Kebahagiaan Nasional sulit membendung sang kapital dewa jaman modern ini.

Menentang kapitalisme tak bisa dengan khotbah, ngomel-ngomel, atau bikin statemen seakan baru kemarin sore sebuah pembangunan candi terjadi. Anda saja yang baru bangun dari tidur.

Menurut hemat saya, menahan lajunya kapitalisme bisa dilakukan cuma dengan dua hal: (1) kebijakan pemerintah dan (2) sikap diri.

Pertama, kebijakan pemerintah. Raja Boko (ayah dari Roro Jonggrang) mungkin saja bisa mencegah lamaran Bandung Bondowoso. Kebijakan penguasa bisa saja meminimalisir atau bahkan menahan lajunya kapital. Atau, mengarahkan kapital untuk kepentingan yg lebih sosialis. Walaupun kecantikan Roro Jonggrang membuat klepar-kleper para pemilik modal, toh yang punya anak adalah bapak. Tapi kita semua tahu, para “bapak” sekarang kerjaannya jual anak sendiri.

Kedua, sikap diri. Karena manusia adalah sasaran kapitalisme, karena pasar hanya ada oleh manusia, maka sikap manusia pulalah yg menentukan apakah kapitalisme tumbuh subur atau mati suri. Ungkapan-ungkapan di atas jika dibalik akan berbunyi: karena sosialisme percaya kepada manusia, maka manusia yg harusny membentengi diri. Manusia yang tahu membedakan mana kebutuhan dan mana keinginan. Manusia yg bisa menahan diri untuk membeli yang tidak benar-benar dibutuhkan. Manusia yg tidak malu menjalani hidup ugahari.

Ernesto Che Guevara bilang membangun manusia yg utuh itu “bukan soal berapa kilogram daging yg dimakan seseorang atau beberapa banyak kali seseorang ke pantai dalam setahun atau berapa banyak barang mahal dari luar negeri yg bisa dibeli seseorang dengan gajinya. Melainkan persoalan bagaimana membuat seseorang merasa lebi lengkap, dengan lebih banyak kekayaan dalam diri dan lebih banyak tanggungjawab.” **

Pantas saja Comandante Fidel Castro pernah berkata soal comrade in arm-nya ini: “Che had a great faith in man. Che was a realist and did not reject material incentives. He deemed them necessary during the transitional stage, while building socialism. But he attached more importance -more and more importance- to the conscious factor, the moral factor.”*** Conscious factor, sodara-sodara! Sadarlah, sadarlah!

Maki-maki kapitalis dan kapital yang belum tentu didengarin. Cara terbaik membuat sesuatu tak laku adalah dengan tidak membeli. Apa gunanya mengecam kapitalisme tapi sedikit-sedikit ke mall bukan ke pasar Inpres misalnya? Kapital hanya menjadi besar bila diperdagangkan, bila laku. Roro Jonggrang memang konon cantik. Dan Bandung Bondowoso akan melakukan apa saja untuk mempersuntingnya. Bahkan dengan menggunakan tenaga para jin sekalipun. Tapi perkawinan hanya akan terjadi dengan syarat. Bagaikan jual beli, hanya akan terjadi dengan “term and condition” tertentu, alias syarat dan ketentuan berlaku. Maka berilah syarat yang berat, setidaknya bagi diri anda, dan berilah ketentuan yang berat, setidaknya bagi diri anda. Agar perkawinan modern yang disebut transaksi itu tidak terjadi.

Jadi daripada marah-marah, sekalian tak usah berkunjung atau belanja ke sana. Sesederhana membakar jerami atau membunyikan lesung to, susi, bu, om, tante?
—–

*istilah “phalus -phalus peradaban” ini saya pinjam dari Cecil Rajendra, seorang sastrawan, hakim dan pengangum Rendra di Malaysia. Ia menggunalan istilah ini dalam puisi-puisinya yang banyak mengkritik tendensi pembangunan fisik dan kebudayaan modern. Saya membaca kumpulan puisinya sekitar pertengahan 1990an. Waktu itu perpustakaan Fakultas Teologi UKAW mempunyai buku kumpulan puisinya. Semoga skrg masih ada.

** Ernesto Che Guevara, Man and Socalism in Cuba, Pathfinder, 1989, hal. 14.

*** Fidel Castro, “Che’s Ideas are Absolutely Relevant Today” dalam Che Guevara dan Fidel Castro, Socalism and Man in Cuba, Pahtfinder, 1989, hal. 30.

Leave a Reply