Sebuah Kisah Pendudukan Jepang di Amarasi

Sebuah Kisah Pendudukan Jepang di Amarasi

Pendaratan Bala tentara Jepang di Timor masih dikenang oleh banyak orang, namun tak banyak yang mencatat detail dan mengungkapkan konflik yang timbul di Timor menjelang pendudukan Jepang ini.

Banyak literatur yang mengungkapkan pendudukan Jepang dalam konteks nasional, tapi untuk daerah-daerah seperti Timor tak banyak masuk dalam analisis.

Beberapa waktu lalu saya mendapatkan sebuah surat yang dikirimkan oleh seorang Pendeta emeritus Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), B.J. Jacob kepada rekannya Pendeta Pieter Middelkoop di Belanda. Surat sepanjang lima halaman bertanggal 27 April 1964  itu berbentuk ketikan  dan ditandatangi dan Sekretaris Majelis Sinode GMIT Pdt.D.M.E Arnoldus.

Pendeta Emeritus Jacob menceritakan pengalamananya sebagai pendeta di Amarasi saat pendaratan Jepang. Diceritakan dalam surat itu bahwa tentara Jepang mendarat di Timor melalui pantai Kerajaan Amarasi yaitu di Teres, Puru dan Sekalak pada 18 Februari 1942.  Jacob menceritakan bahwa sebelum pendaratan Jepang sudah terjadi propaganda-propaganda lewat pamphlet yang menyatakan bahwa kedatangan Jepang “akan membebaskan rakyat dari segala penindasan asal setiap orang patut dan menyambut segala perintah dan membantu perjuangan Dai Nippon.”

Kondisi transisi dan terlebih propaganda Jepang ini menciptakan gejolak dalam masyarakat Amarasi.  Pendeta Jacob tidak memberikan latar belakang namun sangatlah mungkin gejolak ini berakar dari konflik yang sudah ada sebelumnya di kalangan elit Amarasi. Seorang meo (kepala perang) bernama Fai Foni yang berdiam di Ruasnaen, Amarasi  bersama beberapa orang yang mengklaim dirinya “penduduk asli” atau “tuan tanah” berusaha menggalang dukungan di kalangan rakyat Amarasi untuk melawan pihak kerajaan Amarasi. Jacob melaporkan bahwa Fai Foni dan orang-orangnya meniupkan nafiri  di “sekeliling” Amarasi dan mengumpulkan orang-orang untuk “mempropagandakan kekebasan bagi rakyat yang tertindas sekian lama daripada tangan para feodalisten”.  Jacob menyebut bahwa Fai Foni menjadikan janji-janji muluk Jepang sebagai “batu loncatan” dalam usaha untuk menggulingkan pemerintah Kerajaan Amarasi yang sering dinamai sebagai orang “kaseh” atau “orang pendatang dari Sabu.”

Namun ternyata perhitungan Foni dan orang-orangnya meleset karena mantan raja Amarasi A.R. Koroh telah lebih dahulu memperoleh dukungan dari Angkatan Laut Jepang karena ia menyambut pendaratan Jepang bahkan disebutkan ia dikaruniai sebilah pedang dan sebuah “besluit” (surat keputusan) oleh Kaisar Tenoheka. Menurut Jacob, pada saat itu saudara laki-laki sang mantan Raja, H.A. Koroh yang merupakan raja pada saat itu “hampir tidak begitu dihiraukan lagi”. Jacob menklaim bahwa bahwa H.A. Koroh telah mengetahui pembangkangan Foni dan orang-orangnya dan sedang mencari kesempatan untuk “menindas” mereka yang telah dianggap “berkhianat terhadap pemerintah kerajaan Amarasi”. Bahkan ia telah memasang mata-mata untuk memantau pemusatan kekuatan barisan Fai Foni tersebut.

Barisan pemberontak ini ditaksir berjumlah kurang lebih 600 orang “gagah perkasa” dan berpusat di Penfui, Oesao dan Babau di mana mereka terus mengadakan kontak dengan Angkatan Darat Jepang di daerah ini yang telah mereka bantu sebelumnya pada saat pendaratan. Namun beberapa saat setelah pendaratan Jepang, anggota-anggota kelompok inti tidak terlihat lagi di Penfui, Babau dan Oesao. Kemungkinan mereka telah menyadari bahwa A.R Koroh telah mendapatan dukungan dari pihak Angkatan Laut Jepang.  Pada bulan Juni 1942 Foni dan salah satu kelompoknya didatangi sebuah kendaraan militer Jepang di Oesao. Tanpa curiga rombongan Fai Foni mengerumuni kendaraan tersebut. Kemungkinan mereka mengira kendaraan tersebut adalah kendaraan tentara Jepang yang pernah mereka bantu sebelumnya.Ternyata di dalam kendaraan itu menumpang raja A.R. Koroh.  Foni dan tiga orang pengikutnya di tangkap dan dipancung saat itu juga. Tentara Jepang berhasil menangkap 60 orang dibawa ke Burain sebagai tawanan yang katanya akan dipancung kemudian.

Pendeta Jacob adalah pendeta jemaat Oekabiti saat itu. Ia datang ke Burain untuk melihat kondisi para tawanan. Menurutnya mereka yang ditawan itu “kebanyakan terdiri dari orang-orang Kristen dan sebagian kecil terdiri dari orang halaik.” Jacob menulis:

“Tiba di sana mereka lantas dimasukkan dalam keranjang-keranjang kawat yang telah disediakan dengan meniarap di tanah dan diberi makan secara dihamburkan jagung ke dalam keranjang kawat; yaitu  sesudah mereka dirotani 25 kali seorang. Dengan melihat peristiwa ini saya sangat merasa iba hati melihat perlakukan yang sebegitu ngeri terhadap mereka. Apa yang hendak kubuat terhadap mereka yang disengsarakan itu yang hanya menunggu waktu untuk dipancung kepalanya sesuai dengan perbuatanya? Pada waktu saya telah berdoa memohon keberanian daripada Tuhan untuk menghadap Raja A.R. Koroh guna keampunan bagi mereka yang telah disiksa begitu hebat.”

Tanpa sepengetahuan orang-orang yang ditahan ini, Jacob menemui sang Raja untuk memohon pengampunan bagi mereka. Dan berhasil. Semua tahanan dilepaskan. “Keadaan kelepasan yang ajaib tersebut tidak diketahui oleh mereka itu yang tertawan serta saya sendiripun tidak hendak menyatakan kepada mereka bahwa sayalah yang menjadi pohon sebab untuk kelepasan mereka karena hal kelepasan itu hanya terjadi atas jalan ajaib Tuhan sendiri dan bukan oleh manusia,” kenang pendeta Jacob. Bahkan sang Raja meminta pendeta Jacob untuk mengatakan setiap minggu di istananya, sesi pagi di Oekabiti dan sore di Buraen. Rajapun menyiapkan “kendaraan” baginya untuk tujuan itu.

Namun berselang beberapa minggu kemudian sang terjadi penangkapan lagi terhadap lima orang anggota kelompok Fai Foni. Dua orang dipancung segera setelah ditangkap. Yang pertama adalah seorang dari Buraen bernama Ari Tameon dipancung dan dikuburkan di sebuah liang lahat yang digalinya sendiri di Buraen di “sisi jalan besar”. Yang kedua adalah seorang meo bernama Raun Tasi dari Ruan Rete dipancung di lokasi Radio Lama di Oeba, Kupang. Tiga orang yang lain yaitu Titus Keo dari Fatuknutu di Oekabiti,Tertulianus Mese dari Ruan Rete, Obe Rubu dari Batuna dipasung kakinya dan ditahan oleh tentara Jepang di Banuin, Buraen menunggu tiga hari kemudian untuk dipancung. Berita tentang rencana pemancungan ini telah sampai ke telinga