‘Guys’, Dari Nama Pemberontak Menjadi Sebutan Keren

‘Guys’, Dari Nama Pemberontak Menjadi Sebutan Keren

Kata “guys” beberapa bulan lalu menjadi viral di dunia maya, karena aksi seorang mahasiswi di Kupang. Kita juga sudah sering mendengar kata ini terutama di televisi.

Rupanya kata ini mempunyai sejarah yang kelam bahkan ada hubunganya dengan Reformasi Protestan. Guys dalam pengertian dewasa ini berarti kawan (fellow), orang (person), perorangan (individual), namun sebenarnya asal-usul kata ini dapat diusut kembali sampai abad-17.

Kata ini berasal dari nama seorang Inggris bernama Guy Fawkes. Guy Fawkes adalah salah seorang pemimpin sebuah kelompok Katholik yang merencanakan sebuah persengkongkolan untuk meledakkan Gedung Parlement Inggris (House of Lords) dimana terdapat Raja James I dan tokoh penting lainnya. Persengkongkolan yang terkenal dengan nama Gunpowder Plot (https://en.wikipedia.org/wiki/Gunpowder_Plot) ini terjadi pada tahun 1605, dipimpin oleh Robert Catesby bersama Guy Fawkes dan tiga belas orang lainnya. Guy sendiri berasal dari latar belakang orang tua Norman Prancis dan nama Guy adalah sebuah nama yang jarang di Inggris pada saat itu.

Pada bulan Maret tahun 1605 mereka menyewa sebuah ruang bawah tanah di dekat gedung Parlemen. Rencananya adalah mengisi ruangan itu penuh dengan bahan peledak dan meledakkannya pada pembukaan parlement pada tanggal 5 November tahun itu. Meledakkan ruangan itu juga berarti menghancurkan gedung parlemen.

Sayangnya rencana itu gagal. Penyebabnya adalah sebuah surat kaleng atau surat tak beralamat pengirim yang dikirimkan kepad William Parker, salah seorang yang akan hadir dalam pembukaan parlemen. Surat yang dikirimkan 26 Oktober 1605 itu menginformasikan rencana untuk meledakkan gedung parlemen. William Parker segera melaporkan hal itu ke pihak yang berwenang dan dilakukan pencarian terhadap para perencana peledakkan itu.

Ketika penyergapan dilakukan pada tengah malam 4 November, orang yang ditangkap sedang menjaga bahan-bahan peledak itu adalah Guy Fawkes. Ia sedang menjaga 36 barrel mesiu, sebuah jumlah yang cukup untuk membuat gedung parlemen hancur menjadi debu. Guy memang punya pengalaman militer 10 tahun dan pernah bertugas di Pemberontakan Belanda terhadap Spanyol. Karena pengalamannya ini ia ditugaskan untuk mengurus bahan peledak. Ia ditangkap dan disiksa sampai ia mengakui dimana para perencana peledakkan yang lainnya. Pemimpin utamanya Robert Catesby terbunuh dalam pengejarannya dan anggota yang lain ditangkap. Delapan orang yang ditangkap itu dijatuhi hukuman mati dalam pengadilan mereka tanggal 27 Januari 1606. Hukuman untuk mereka yang dianggap pengkhianat di Inggris pada waktu itu adalah yang disebut “hanged, drawn and quartered” artinya diikat dibeberapa bilah kayu atau papan, ditarik dengan kuda ke tempat eksekusi kemudian digantung sampai mati.

Kerajaan Inggris yang adalah Anglikan, merayakan kemenangan atas persengkongkolan berdarah ini bertahun-tahun setelah kejadian tersebut. Setiap tanggal 5 November dirayakan apa yang disebut Bonfire Night atau Guy Fawkes Night. Sejumlah api unggun dinyalakan di beberapa lokasi dan lonceng gereja dibunyikan. Kadang ada juga pesta kembang api. Anak-anak melakukan pawai dengan membawa boneka-boneka Guy Fawkes dan teman-temannya. Boneka-boneka itu, terutama bonkea Guy Fawkes dibuat untuk diarak lalu dibakar dalam perayaan itu. Ini adalah sebuah perayaan yang sangat anti Katholik sebab kadang boneka guy dibakar bersama dengan boneka Paus. Rencana Peledakan ini sendiri selain disebut Gunpowder Plot juga disebut Jesuit Treason atau Pengkhianatan Jesuit. Boneka Guy Fawkes dan boneka-bonela lainnya inilah yang disebut “guy”.

Kebiasaan selama berabad ini kemudian menjadikan “guy” sebagai sebuah kata slang, pertama-tama ditujukan untuk seseorang yang berpakaian buruk, dan kemudian ditujukan juga untuk seorang laki-laki. Pada tahun 1830-an ejekan yang umum untuk orang yang berpakaian sembarangan adalah “guy”. Contohnya dalam kalimat spt ini: “You smell like piss and I don’t have any change, so why don’t you crawl back to the gutter you call a home and die, guy!”

Sampai dengan tahun 1920-an orang memanggil orang lain dengan “guy”. Bahkan di tahun 1940-an kata ini melampaui batas-batas gender sehingga perempuan pun dipanggil “guy”.

Kamus Oxford English memberi definisi pertama dari “guy” sbb: “An effigy of Guy Fawkes traditionally burnt on the evening of November the Fifth, [usually] with a display of fireworks. Also in full Guy Fawkes.” Arti kedua untuk kata ini dalam Kamus Oxford adalah: “A person of grotesque appearance, [especially] with reference to dress; a ‘fright.’”

Di Amerika Serikat kata ini kemudian menjadi berarti “A man, fellow”. Kata yang mempunyai konotasi yang sangat negatif kemudian bermetamorfosa menjadi istilah yang lebih netral sebagaimana digunakan sekarang.

Nama Guy sendiri, ternyata, adalah analogi nama Norman Prancis untuk nama Italia, Guido. Dan ternyata nama Guy Fawkes sendiri di saat itu disebut Guido Fawkes.

Menurut pengamatan pribadi saya, kata ini justru kurang digunakan di Inggris dan justru lebih banyak digunakan di AS. Di Inggris orang lebih sering menggunakan “gal”. Para pesohor Indonesia, para peniru, celebrity kagetan mendapatkan pengaruhnya dari AS karena memang keminggris kita lebih dipegaruhi AS daripada UK.

So, guys, begitulah kira-kira asal kata yang kamu biasa gunakan guys.

Keterangan gambar: Gambar delapan dari 13 konspirator untuk membunuh Raja James I yang peristiwanya dikenal dengan Gunpowder Plot. Gambar oleh Crispijn van de Passe. Yang hilang dalam gambar ini adalah Digby, Keyes, Rookwood, Grant, dan Tresham.

Leave a Reply