Hujan siang ini

Hujan siang ini

Hujan siang ini
Engkau dan ibumu pergi
ke timur keduanya, ke mana seharusnya akupun pulang
Jauh di atas awan kau dan ibumu terbang
di mana matahari selalu bersinar
dan mendung adalah keindahan

Hujan siang ini
Di sini, di terminal tua ini
aku duduk bersama segala kekisruhan Bandar udara ibukota
Seminggu begitu cepat rasanya
dan aku tak bisa menahan waktu
atau merombak jadwal kehidupan

Hujan siang ini
Aku jauh dari rumah
dan aku tak bisa ke mana-mana
Engkau dan ibumu akan tiba dalam waktu empat jam
Empat jam yang hanya bisa kudapat setahun sekali
Aku bisa saja menelponmu dan ibumu setiap saat
tapi itu tak sama dengan bagaimana engkau menarik tanganku tanpa kata-kata
memintaku bermain bersamamu

Hujan siang ini
Terminal tua ini selalu bersamaku
Tapi aku tak mungkin melompat ke atas jet plane
selaiknya sehari-hari aku melompat ke atas kereta tua
aku di jalanku sendiri siang ini
dan aku sangat merindukan orang-orang terkasih

hujan siang ini
Ibumu bilang selepas chek-in
kau terus mengulang kalimat “cali papa, cali papa”
Papa tak akan pulang malam ini sayang,
tidurlah di pelukan ibumu dan jangan nantikan papa

Hujan siang ini
Bob Schneider mengalunkan irama darah muda tentang Tokyo
tapi ku ingat Kupang,
Kupang “is not far enough away, to where I wanna be, today”
Bob Marley mengingat Babylon dalam irama religious Rastafarian
tapi hatiku di Kupang

“One bright morning when my work is over, I will fly away home”

 

Serpong, March 20, 2011

Lelaki miskin dan pekerja pabrik

Lelaki miskin dan pekerja pabrik

Diam-diam pekerja pabrik itu mengambil pecahan limapuluhan ribuan yang tersisa di dompetnya, ditaruhnya ke dalam genggaman laki-laki kurus dan lusuh itu.

“Belilah makan untuk anak-anakmu dan istrimu, istirahatlah sedikit, biar besok bisa bekerja lagi,” bisiknya kepada lelaki yang sedari tadi menjaga tiga anaknya bermain-main di lantai gerbong. Istrinya duduk duduk, nampak begitu lelah seperti suaminya.

Pekerja pabrik itu segera berlalu karena tak sanggup menatap mata laki-laki miskin itu dan ketiga anaknya yang masih kecil…tetapi lelaki itu mengejarnya dan bertanya: “kenapa bapak memberi saya sebanyak ini?”

sejenak terdiam ia menjawab: “karena engkau tidak meminta. aku telah mendapatlkan lebih dari cukup, apa yang tidak kuminta dari Allahku.”

saat ia bergegas di kerumunan orang di stasiun itu, ia terisak, menghapus air mata dari pipinya, sambil menutup kepalanya dengan penutup kepala jacketnya.

Lelaki kurus itu pun meneteskan air mata di bagian lain di gerbong yang sedang berlalu meninggalkan stasiun Palmerah…..

 

–Palmerah, 1 Feb, 2011.

Saya Seorang Politisi

Saya Seorang Politisi

Saya seorang politisi
Dan saya tahu dimana saya berdiri
Saya seorang pemberi harapan baru
Seorang pemberi mimpi
Hari ini saya adalah pahlawan
Bisa jadi saya telah memenangkan hati anda
Tapi saya tahu aturan mainnya, anda akan segera lupa nama saya
dan saya tak akan ada di sini lima tahun lagi jika saya tak ada di baliho-baliho

Saya seorang politisi
Dan saya harus membayar harganya
Hal-hal yang tidak saya ketahui pada awalnya
Saya belajar dengan melakukannya dua kali, kalau perlu tiga kali
Ah, tetapi tetap mereka datang menghantui saya
Tetap mereka ingin berkometar
Saya belajar berpidato dengan tangan di saku celana
Saya membiarkan mereka memuji saya dan saya memberi mereka ‘uang transport’
Lalu mereka pergi dengan sukacita

Saya seorang politisi
Saya telah mengunjungi segala sudut kota
Saya melakukan segala macam pidato
Saya bertemu berbagai macam orang
Saya tidak ingat wajah
Saya tidak ingat nama
Tapi ah, bukankah sama saja
Bukankah setelah beberapa bulan atau tahun
Semua sama seperti sedia kala

Saya seorang politisi
Idola sesaat di jaman saya
Saya membuat banyak orang menoleh Ketika saya diberi kesempatan berpidato
Ah bukanlah wajah saya ada di Koran-koran, juga di media online
Tapi jika saya tidak punya uang mereka tak akan memunculkan saya
Saya hanya akan ada di halaman tengah atau belakang
Bagaikan makanan penutup di pesta kawin